Refleksi Perkuliahan Etnomatematika
Dunia Filsafat Etnomatematika
oleh:
Novilia Risma Wigati
17301241005
noviliarisma.2017@student.uny.ac.id
Pendidikan Matematika I 2017
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Universitas Negeri Yogyakarta (UNY)
Dosen Pengampu: Prof. Dr. Marsigit, M. A.
Pada hari Selasa tepatnya 4 Februari 2020, dilaksanakan perkuliahan Etnomatematika. Etnomatematika merupakan salah satu mata kuliah wajib prodi pendidikan matematika di UNY. Dengan diampu oleh seorang dosen berpengalaman dan ahlinya di bidang tersebut. Adapun dosen pengampu mata kuliah ini adalah Prof. Dr. Marsigit, M.A. Beliau adalah guru besar dalam bidang ilmu Filsafat Matematika, Pembelajaran Matematika, dan Pendidikan Matematika UNY.
Sebelum mengetahui lebih lanjut bagaimana perkuliahan tentang Etnomatematika, saat pertemuan pertama setiap mahasiswa di arahkan untuk mengunjungi web http://powermathematics.blogspot.com dan http://.academia.edu . Kedua laman web tersebut memuat RPP, Silabus, hingga artikel tentang etnomatematika dan hal lain yang berkaitan dengan pendidikan metematika. Selain itu, diberikan gambaran bagaimana etnomatematika mampu berperan penting dan memberi pengaruh besar terhadap pembelajaran matematika. Berdasarkan suatu definisi, Etnomatematika merupakan bidang ilmu pengetahuan yang mempelajari matematika dan penerapannya (yang diterapkan) pada kelompok budaya tertentu. Menurut Shirley (Marsigit, 2016) Etnomatematika merupakan matematika yang ada di dalam masyarakat dan kebudayaannya (artefak, lagu, tarian, dll) yang dapat digunakan dalam proses pembelajaran.
![]() |
| Dokumentasi pembelajaran etnomatematika bersama Prof. Marsigit |
![]() |
| Dokumentasi pembelajaran etnomatematika bersama Bu Anggit |
Pada saat pertemuan kedua, Prof. Marsigit lebih fokus membahas filsafat etnomatematika. Beliau memberikan bagaimana gambaran kondisi dan posisi etnomatematika di dalam kehidupan. Di awali dengan sebuah garis yang menggambarkan tentang dunia yang terbagi menjadi dua dari awal sampai akhir. Adanya pembagian antara dunia pikiran dan realita atau kenyataan, yaitu sesuatu yang dapat dilihat, disentuh atau adanya dunia persepsi. Dunia pikiran adalah bagian dari dunia logika. Dunia pengalaman baian dari realita atau kenyataan. Sifat dari dunia pikiran adalah absolut dan tetap sedangkan kenyataan itu sifatnya relatif dan berubah. Hal abstrak menjadi bagian dengan adanya rumus pada dunia pikiran dan hal kongkret menyebabkan contoh menjadi bagian dari dunia kenyataan. Sifatnya yang tetap menyebabkan konsisten pada pikiran, hal ini berpengaruh terhadap sifatnya yang tidak terikat ruang dan waktu, berbeda dengan kenyataan yang dapat kontradiktif dan terikat oleh ruang dan waktu.
Perbedaan dua dunia yang digambarkan, mempengaruhi pada posisi jenjang sekolah siswa dan mahasiswa. Seperti yang digambarkan, bahwa siswa SD/SMP diposisikan pada bagian kongkret sesuai dengan cakupan pembelajaran yang didapatkan, termasuk pola pikir seukuran siswa tersebut. Jenjang SMA terletak pada posisi diantara abstrak dan kongkret atau dalam penggambarannya terletak tepat di garis. Sedangkan, untuk jenjang S1, S2 , dan S3 jelas diposisikan pada dunia abstrak, karena cakupan pembelajaran yang diemban oleh mahasiswa tersebut bukan sekedar hal kongkret melainkan sudah memahami konsep, aksiomatik sekaligus teorema matematika. Dalam bahasa yang berbeda dapat disebut pula ilmu matematika yang di tempuh oleh mahasiswa adalah matematika murni atau akpriori dan ilmu matematika yang ditempuh oleh siswa sekolah adalah matematika kongkret/realistik/terapan.
Hal tersebut memberikan gambaran secara lanjut terhadap letak etnomatematika di dalam dunia pikiran dan kenyataan. Etnomatematika digambarkan jelas posisinya pada dunia kongkret yang kontras sehingga melalui suatu proses inovasi dan PBM Matematika mampu melahirkan konsep-konsep yang dipahami lebih lanjut oleh jenjang siswa SMA dan mahasiswa. Konsep tersebut termasuk di dalamnya terdapat ilmu, construct, bersifat tunggal, sedangkan etnomatematika yang memuat contoh, kegiatan, dan trial & error bersifat plural. Selanjutnya diberikan gambaran berupa iceberg konsep pembelajaran matematika. Pada puncaknya adalah matematika formal, lalu model matematika formal, model kongkret, dan yang paling dasar adalah matematika kongkrit. Sebagai contohnya diberikan masing-masing penggambaran terhadap masalah matematika, yaitu konsep pythagoras, konsep dari rumus bangun ruang kubus, hingga konsep aljabar.
Selanjutnya, Prof. Marsigit meminta mahasiswa untuk menyiapkan pertanyaan yang ditulis di selembar kertas dan dibahas langsung. Selain itu, ada kesempatan dimana mahasiswa diminta untuk mengamati dinding sebelah kanan, lalu diberikan pertanyaan kira-kira berapa jumlah ruas ventilasi yang ada? Semua mahasiswa menjawab dengan tebakan atau lebih formalnya adalah intuisi dari setiap mahasiswa. Hal ini dilakukan untuk melatih intuisi dari setiap mahasiswa. Dengan melatih intuisi, secara tidak langsung sudah melatih setiap jiwa untuk siap dalam pembelajaran etnomatematika yang sesungguhnya dengan berdasarkan hal-hal kongkrit.
Perkuliahan Etnomatematika merupakan salah satu perkuliahan tidak membosankan. Hingga pertemuan kedua, mahasiswa sudah banyak dihibur dan diberi banyak ilmu-ilmu baru yang bermanfaat oleh Prof. Marsigit. Pemberian makna terhadap peran etnomatematika akan terus berlanjut pada pertemuan-pertemuan selanjutnya. Etnomatematika memberikan banyak bekal pada saya sebagai calon seorang guru bahwa banyak hal-hal yang perlu dipersiapkan dan diperhatikan dalam melakukan pengajaran di kelas.


Komentar
Posting Komentar